Pengalaman Backpacking di Eropa: Ljubljana dan Bled, Slovenia (Part 1)

Dari dulu gue selalu pengen naek kereta di pegunungan Alpen. Seperti di film-film, gue pengen naik kereta yang melewati pegunungan bersalju, sambil menikmati indahnya gunung berselimut salju lainnya di horizon…

Terus sambil menyeruput coklat hangat. Beuh.

Dibandingin berlibur di kota-kota besar, gue lebih pengen backpacking dan menikmati suasana desa-desa atau kota-kota kecil di Eropa yang tenang dan indah. Gue pengen menjelajahi kastil-kastil dan rumah-rumah tua di sana. Gue juga pengen mendaki gunung. Gue pengen melewati lembah, juga melihat sungai yang mengalir indah ke samudera. Siapa tahu nanti gue ketemu Ninja Hatori.

DSCF2135
Kaya gini.

Perjalanan gue dimulai dari Ljubljana, ibukota Slovenia. Gue lalu mengunjungi Danau Bled. Berangkat dari Bled, gue pergi ke Austria, lebih tepatnya ke Hallstatt. Lalu gue pindah ke Fussen, sebuah kota kecil di selatan Jerman. Di sana gue melihat kastil Neuschwanstein yang menginspirasi desain kastilnya Disney. Gue lalu naik kereta ke Lauterbrunnen, sebuah desa kecil yang cantik di lembah pegunungan Alpen di Swiss. Perjalanan gue berakhir di Milan, Italia.

Pengalaman dan cerita perjalanan gue bakal dituangkan di beberapa artikel bersambung di blog ini. Tadinya gue cuma mau bikin 1 artikel, tapi ternyata tulisan gue kepanjangan.

Gue juga bakal share itinerary dan budgetnya secara cukup detail, jadi artikel ini pun tetap akan cukup panjang. Kalau waktu lo buat ngebaca artikel nggak banyak, bookmark dulu aja, nanti balik lagi ke sini. Okay?

Atau nonton aja travel video gue dulu. 2.5 menit doang.

Sebelum lo membaca blog post gue lebih jauh, gue mau menekankan ini:

This blog post is not where you can find ultra-budget traveling recommendations.

Gue bukan tipe backpacker yang harus nge-trip seirit-iritnya, tapi gue juga bukan tipe luxury traveler. Gue nggak mau spend budget buat menginap di resort, atau hotel berbintang, dan kemana-mana naik taksi, kecuali kalau terpaksa.

Ready? Read on.

Day 0: The Preparation

Berikut website yang gue pakai buat persiapan liburan gue kali ini:

  1. Flight booking via Google Flights
  2. Semua hostel di trip ini gue booking dari booking.com (daftar lewat dan book lewat link ini biar lo dapet 15 Euro cash reward!)
  3. Gue pakai 3 website ini buat lihat rute, jadwal, dan booking kereta:
    1. Austrian Railways / OEBB
    2. Deustche Bahn / DB
    3. Swiss Bahn / SBB
  4. Gue biasa cek tempat keren atau aktivitas seru di lokasi tujuan pakai Trip Advisor.

Kenapa sih gue nggak pakai Eurail Pass? Ternyata oh ternyata, berjudi itu haram~ sewaktu gue bandingin harga keduanya, Eurail Pass lebih mahal. Mungkin karena di kasus gue, gue udah tau exactly rute gue mau lewat mana aja, dan juga ada diskon di beberapa trayek kereta yang gue tumpangi.

DSCF1755

Setelah mempersiapkan tiket dan itirenary, jangan lupa mempersiapkan beberapa barang ini buat perjalanan lo:

  1. Cash: Swiss Franc dan Euro. Beberapa negara, terutama Jerman, lebih mengutamakan transaksi cash.
  2. Credit card yang unlocked di negara-negara tujuan. Just in case.
  3. Kantong kresek.
  4. Botol minum.
  5. Power bank.
  6. Smartphone with an internet connection. You’ll need it.
  7. Nggak perlu bawa travel adapter. Colokan di negara-negara ini sama kaya di Indonesia / Denmark.
  8. Gue tahu ini nggak eco-friendly, tapi beberapa tiket kereta yang lo beli harus diprint — terutama tiket antar negara. Beberapa website kereta di atas bakal ngasih tau lo kalau tiketnya butuh diprint.

Day 1: Copenhagen – Ljubljana

Ljubljana itu sebuah kota kecil yang cantik. Sebagian kecil kotanya penuh dengan gedung-gedung tua bergaya Baroque; penuh dengan ornamen-ornamen detail, terkesan mewah, dan didesain untuk dikagumi. Tipikal ibukota di Eropa, Ljubljana mempunyai plaza, kanal cantik, dan banyak kafe-restoran-bar di sekitar kanal itu.

Kota ini aneh, punya kesan cantik tapi nggak teratur di mata gue; street foodnya, pasarnya, dan gedungnya terlihat lebih berantakan dibandingkan Copenhagen. Ljubljana itu kaya cewek cakep dan tomboy yang pakai dress, tapi rambutnya agak awur-awuran. Ada pesona uniknya.

DSCF0740-1
11-12 sama Kalimalang

Suasana Ljubljana itu santai dan chill abis. Gue ngeliat kotanya penuh dengan orang-orang yang menikmati detik-detik hidup mereka — tapi mungkin karena waktu itu weekend dan gue berkeliaran di daerah yang touristy.

Di kota ini juga ada kastil yang berdiri megah di atas bukit. Dari kastil itu, lo bisa melihat pemandangan kota dari atas, juga betapa kecilnya manusia-manusia di bawah lo. Waktu itu gue naik ke bukitnya dengan jalan kaki karena penasaran, tapi kalau lo mau menghemat waktu, lo bisa naik funicular railway.

DSCF0762
Pemandangan dari Kastil Ljubljana

Gue mendarat di airport jam 10:20 pagi, lalu keluar airport dan mencari bus. Karena bus airport baru akan ada lagi jam 12 (jadwal keberangkatan bus 2 jam sekali on weekends), gue akhirnya naik shuttle ke Ljubljana. Tiket bus harganya 4 Euro, dan tiket shuttle harganya 10 Euro. Shuttle yang gue tumpangi selama 40 menitan ini berhenti di stasiun kereta dan terminal bus pusat.

Dari stasiun, gue langsung meluncur ke Zeppelin Hostel yang nggak jauh. Mencari pintu masuk hostel ini nggak mudah, karena sebenernya hostel ini adalah apartemen yang dialihfungsikan. Lo nggak bakal ngeliat billboard bercahaya dengan tulisan “Zeppelin Hostel” dan “Masuk Lewat Sini, Coy”. Lo mesti cari dan masuk ke sebuah gang, lalu cari pintu masuk apartemennya, dan make sure lo ngeliat tulisan “Cepelin” atau “Zeppelin” di pintu dan door bell-nya.

Hostelnya lumayan bersih, dan hampir pasti sepi di siang hari karena penghuninya pada sedang berkeliaran. Sarapan roti, teh, dan kopi di hostel ini tersedia tanpa biaya tambahan. Kamar dan kasurnya tipikal hostel: bunk bed dan gue share kamar ini dengan 5 strangers.

Ini bukan pertama kali gue nginep di hostel, dan gue kagum sama resepsionis hostel ini — kalau nggak salah, namanya Mariana. Dia sigap banget memberikan gue tips lokasi yang bagus buat dikunjungi, bahkan sampai ngegambarin rutenya di peta. Segala macam pertanyaan, mulai dari “Restoran apa yang murah dan enak?” sampai “kamu sudah punya pacar belum?” “Gue bisa naik apa kalau mau ke Smarna Gora?”, dijawabnya dengan sigap.

Dia bahkan minjemin gue commuter card biar gue nggak usah beli lagi! Satisfaction level over 9000.

DSCF0756
Anak kota Ljubljana

Siang itu gue langsung keliling daerah touristy-nya Ljubljana. Hampir semua daerah touristy-nya bisa ditempuh dengan berjalan kaki — gue bisa ke jembatan yang ada patung naga, ngelewatin plaza dan kanal yang ada 3 jembatan berjejernya, makan siang, bahkan menanjak ke kastil di atas bukit. Gue nggak spend banyak waktu jalan-jalan di Ljubljana, karena gue pengen pergi buat short hiking di Šmarna Gora.

Šmarna Gora adalah bukit setinggi 600-an meter yang berada di luar kota Ljubljana. Dulu, bukit ini digunakan warga lokal untuk berlindung dari serangan pasukan Turki di jaman perang dulu. Sekarang di atas bukit ini ada sebuah gereja dan restoran-cafe buat nongkrong. Untuk pergi ke bukit ini, gue naik bus no 8, turun di halte Tacenski Most, lalu hiking ke atas bukit. Perjalanan bus-nya memakan waktu 30 menit, dan gue hiking nyaris 1 jam.

Summary soal hiking di Šmarna Gora: CAPEK COY! Mungkin karena gue salah ambil jalur; gue naik ke atas lewat jalur yang curam, padahal ada jalur yang landai.

Tapi semua terbayar ketika sampai di atas gunung. Gue bisa ngeliat pemandangan yang luas dan indah sambil menyeruput teh manis hangat — yang harga per gelasnya 2 Euro. 😅 Tapi itu adalah adalah segelas es teh manis ternikmat di hidup gue.

View from Smarna Gora
Simba, every thing the light touches is our kingdom.

Sepulangnya dari Smarna Gora dan sesampainya di hostel, gue pergi hang out sama beberapa penghuni hostel lainnya: Emily, Anna, Antonio, dan Daniel. Kami keliling seru-seruan ke beberapa pub and club. Gue ikut karena penasaran sama night life scene di Ljubljana, dan ternyata rusuh juga — banyak yang joget di atas meja gitu!

Karena gue capek banget abis hiking, gue pulang ke hostel duluan dan bersiap buat hari kedua. Bobo tampan.

Expenses of day 1: 61 Euro

  • Hostel: 18 Euro
  • Shuttle from airport: 10 Euro
  • Bus ticket to Smarna Gora: 3 Euro
  • Meals and snacks: 20 Euro

Day 2: Ljubljana – Bled

Setelah bangun pagi dan sarapan, gue pergi keliling pusat kota dan kanal sekali lagi buat ngerekam video. Lalu gue ke terminal, dan… gue ternyata salah jadwal dan ketinggalan bus! Gue kecewa, kesal, dan merasa bodoh…

Dan akhirnya terpaksa deh gue beli sepaket Big Mac di McD terdekat. #okSip

Buat pergi ke Bled dari Ljubljana, lebih baik naik bus — butuh 20 menit jalan kaki dari stasiun kereta Bled ke daerah penginapan, sedangkan dari terminal Bled hanya butuh 5 menit. Tiket bus seharga 6.3 Euro bisa dibeli di counter di terminal, atau langsung dari supirnya. Kalau beli tiket di counter, lo bakal kena extra reservation fee seharga 1.5 Euro.

Perjalanan gue dari Ljubljana ke Bled ditempuh dalam 1.5 jam. Di tengah perjalanan, bus ini akan berhenti beberapa kali untuk mengangkut penumpang. Waktu itu ada 1 penumpang yang salah turun karena mengira sudah sampai Bled, terus dia sadar dan naik lagi. Before you get off the bus, make sure you ask the driver if you’re there yet.

DSCF1017-1
Idealnya, ke sini itu bareng kamu.

Di Bled, gue menginap di hostel murah meriah yang keren abis. Hostelnya bersih dan terawat banget: kamar mandi dan toiletnya bagus, dapurnya pun bagus (iya, lo bisa masak di sini). Lokasi hostel nggak jauh dari danau, dan yang paling penting: ada Playstation 3-nya coy!

Harga per malamnya? 11 Euro doang buat ranjang yang sekamar ber-empat (including city tax)!

Nama hostelnya Castle Hostel 1004. Sama kaya hostel di Ljubljana, pintu masuk ke hostel ini juga agak tricky: gue sempet salah masuk ke bar dengan nama yang sama. Gue bahkan mondar-mandir selama 15 menit sebelum nemu pintu masuknya, yang ternyata ada di gedung yang sama dengan bar itu, cuma lebih deket ke tempat parkir aja.

Biar lo dan gue dapet 15 Euro credit, book hostelnya pake link ini yah!

Setelah check-in dan beres-beres, gue langsung menuju gereja dan kastil Bled. Gue waktu itu bayar 11 Euro buat tiket masuk ke kastilnya. Gue agak kecewa soalnya banyak bagian kastil yang direnovasi, jadi gue nggak bisa melihat keseluruhan ruangannya, dan susah nyari angle yang nggak ada bagian under rennovation-nya.

 

Tapi sumpah deh, Bled itu cantik banget! Air di danaunya jernih, bersih, kehijauan, dan dingin. Pemandangan dari atas kastil bagus, dari bawah juga bagus. Dari sisi kastil, lo bisa melihat Pulau Bled yang ada gereja di tengahnya. Dari sisi Pulau Bled, lo bisa ngeliat tower gereja dan kastil yang bertengger di atas bukit.

Walau pemandangannya itu-itu doang (danau), tapi dipantengin lama-lama pun nggak ngebosenin dan masih tetep bikin adem. Kaya Chelsea Islan.

Setelah turun dari kastil, gue nongkrong di sebuah restoran di pinggir danau yang chill abis. Lalu gue ngabisin beberapa jam buat ngiterin danau ini sambil foto-foto. Dan karena hari itu lagi cerah, adem, dan hanya sedikit berawan, gue bisa produktif banget dalam dapetin foto cantik di Bled.

Gue waktu itu sayangnya nggak nyempetin buat naik Pletna Boat buat ke Pulau Bled. Maybe next time.

DSCF1247
Pletna Boat.

Gue nggak ngapa-ngapain di sore itu selain photowalk di sekitar danau. Setelah gue puas foto-foto, malam turun dan menyelimuti Bled. Suasana di pinggiran danau pun menjadi sangat hening. Waktu itu juga suhu nge-drop ke 0-2 derajat, dan itu membuat nggak banyak turis berkeliaran menikmati pemandangan malam di Bled. Patung berbentuk hati yang tadinya ramai pun kini sepi.

DSCF1285
((patung hati yang tadinya ramai pun kini sepi)) #triggered

Karena udah nggak banyak aktivitas yang bisa gue lakukan, dan akikah gue udah lelah, gue pun memutuskan buat kembali ke hostel dan mandi. Di ruang tamu, gue ngobrol dengan sesama traveler buat sekedar bersosialisasi. Nggak lama kemudian gue memutuskan untuk tidur lebih cepat, karena keesokan paginya gue pengen short hiking ke Ojstrica buat ngeliat sunrise.

Expenses of day 2: ~55 Euro

  • Hostel: 11 Euro
  • Bus from Ljubljana to Bled: 7.8 Euro
  • Bled Castle ticket: 11 Euro
  • Meals and Snacks: 25 Euro (I ate at a lakeside restaurant that day. It was not cheap.)

Day 3: Bled – Hallstatt

Pagi itu, alarm smartphone ngebangunin gue jam 5:30, dan karena gue anaknya rajin…. gue snooze alarmnya beberapa kali. Seriously, pagi itu dingin banget! Bikin mager!

Setelah memotivasi diri beberapa kali, akhirnya gue bisa beranjak dari kasur — sekitar jam 6:00 pagi. Gue langsung siap-siap, cuci muka, sikat gigi, makan roti, dan berangkat jalan kaki ke Ojstrica. Di tengah perjalanan, matahari sudah mulai terbit dan memerahkan langit.

Sunrise in Bled
Tentram.

Butuh berjalan kaki  selama 30 menit di pinggir Danau Bled untuk sampai ke Camping Bled. Kata resepsionis hostel gue, kalau gue udah sampai sana, gue tinggal cari penanda rute penajakan ke Ojstrica. Terus katanya gue tinggal ikutin track-nya saja. Gampang.

Tapi ujung-ujungnya gue pake Google Maps juga. Ini rutenya.

Perjalanan menanjak ke atasnya ngeri-ngeri sedap. Waktu itu masih awal musim semi, jadi beberapa jalur penanjakannya masih diselimuti es yang agak mencair. Lo bisa bayangin betapa licinnya. Beberapa kali gue hampir jatoh kepeleset.

Terlebih lagi, di 50-100 meter terakhir, lo bakal berhadapan dengan tanjakan berbatu-batu tajam. Lo harus super hati-hati di bagian terakhir ini, terutama kalau lo cuma bermodal sneakers, bukan hiking boots.

Tapi lagi-lagi semua terbayar ketika gue sampai di puncaknya. Matahari sudah terbit dan tertutup awan rendah, namun tetap cahayanya mampu merasuk kaki langit. Di beberapa area di ujung mata, kabut tipis masih lembut tertidur. Angin berhembus sunyi, dan yang terdengar cuma kicauan burung-burung yang memperingati pagi.

Gue dan beberapa traveler sependakian nggak banyak ngobrol waktu itu. Kami lebih banyak terdiam dan terpana. Sumpah, pemandangannya cantik banget.

View of Bled From Ojstrica
Subhanallah.

Karena keasikan menikmati pemandangan pas sunrise, gue nggak inget kalau gue mesti sampai di Stasiun Bled Jezero sebelum jam 9:25! Setelah Bled, tujuan berikut gue adalah Hallstatt di Austria, dan gue mau ke sana naik kereta.

Pada hari itu, gue inget banget, adalah pergantian ke European Summer Time, jadi waktu tercatat dimajuin 1 jam. Misalnya seharusnya jam 8 pagi, jam yang gue lihat di smartphone gue adalah jam 9 pagi.

Waktu itu jam udah menunjukkan angka 7:50. Karena gue takut kereta gue datengnya jam 8:25 instead of 9:25, gue langsung siap-siap dan turun gunung biar sampai di stasiun at least 10 menit sebelum kereta berangkat. Perjalanan turun gunung sampai ke stasiun itu kira-kira memakan waktu 25 menit, dan sialnya jalanan ke stasiun itu lumayan menanjak.

Eh tapi gue sempet-sempetnya berhenti buat ambil foto ini. 🙈

DSCF1349
Bled setelah sunrise. Masih cantik.

Gue nggak yakin lo bisa naik-turun bukit dan ngejar kerata kaya gue kalau lo sambil bawa-bawa koper. Kalau lo nggak backpacking tapi masih mau ngikutin rute gue, gue sarankan buat nginep di sini 1 malam lagi.

Sesampainya di stasiun, ternyata jam keberangkatan kereta gue bukan jadi 8:25, tapi tetep 9:25. Fyuuuhhhh…

Ngomong-ngomong soal kereta, gue udah pesen tiket keretanya sebelum pergi liburan biar nggak ribet. Lo bisa melakukan hal yang sama — tinggal klik https://www.oebb.at/en/ aja, pergi ke halaman Route Planner, dan masukin “Bled Jezero” sebagai stasiun keberangkatan, dan “Hallstatt” sebagai stasiun tujuan. Nanti lo bisa beli tiketnya langsung di website ini pakai credit card. Waktu itu, gue bayar tiketnya seharga 27 Euro.

Screen Shot 2018-04-15 at 23.05.19

Gerbong kereta yang gue naiki di Stasiun Bled Jezero itu klasik banget. Gue berasa naik kereta jaman perang, yang warnanya pudar-pucat. Selang 15 menit, gue sudah sampai di Stasiun Jesenice untuk transit dan naik kereta ke Austria. Gue punya 30 menit ketika transit, dan gue pakai waktu itu buat beli makanan buat di perjalanan.

Ketika udah memasuki Austria, suasana pegunungan Alpennya langsung berasa. Gue berkali-kali terperangah melihat pemandangan yang begitu indahnya. Gunung-gunung yang kepalanya dipenuhi salju, tapi kakinya yang mulai hijau pucat. Dataran yang luas dan rumah-rumah kecil yang jarak satu dengan lainnya ratusan meter. Ladang dan peternakan yang lenggang, dengan traktor tua yang teronggok di salah satu sudutnya.

Selain di Jesenice, gue sempet transit dan ganti kereta di Bischofshofen dan Stainach-Irdning.

DSCF1740

Warning soal naik kereta di Austria / Jerman / Swiss: Di beberapa transit, terutama di transit kereta lokal, sering kali kita cuma punya 8-10 menit buat ganti kereta. Kita harus siap dan sigap buat pergantian kereta — make sure semua barang kita sudah di tangan dan siap turun sebelum kereta berhenti.

Setelah kita turun, langsung cari peron kereta berikutnya dari papan informasi (karena nggak ada di tiket), dan langsung ke peron berikutnya. Kalo lo bawa koper gede kaya turis emak-emak Indo, gua yakin lo bakal kesulitan.

Setelah beberapa jam menikmati pemandangan dari kereta, sampailah gue di Statiun Hallstatt. Dari stasiun, gue naik kapal kecil buat sampai ke Desa Hallstatt dengan membayar tiket 2.5 Euro. Pembayarannya harus cash.

Hallstatt, ketika gue berada di sana, selalu mendung dan berkabut. Gloomy. Tapi tetep cantik. Kaya kamu.

Kali ini gue nggak dapet hostel murah, dan seinget gue memang pilihan hostel di sini cukup terbatas. Gue menginap di hotel yang bersih dan terawat banget. Hotelnya agak jauh dari pelabuhan, tapi deket ke funicular buat ke Hallstatt Salt Mine. Untuk satu malam gue menginap di kamar dengan queen size bed, gue bayar sekitar 100 Euro. Nama hotelnya adalah Gasthof Pension Gruner Anger.

Hallstatt yang dipenuhi kabut. Masih tetep cantik.
Hallstatt yang dipenuhi kabut. Masih tetep cantik.

Expenses of day 3: ~145 Euro.

  • Train from Bled to Hallstatt: 27 Euro (your ticket cost can be very different though!)
  • Boat to Hallstatt: 2.5 Euro
  • Hotel in Hallstatt: 100 Euro
  • Meals and snacks: 15 Euro

Karena artikel ini udah cukup panjang, gue bakal cerita soal Hallstatt dan perjalanan gue di sana di blog post berikutnya. Hit the bookmark button atau follow gue di WordPress, atau Instagram buat dapet update segera setelah gue kelar ngetik artikelnya.

Thank you for reading!

Silakan tinggalkan komentar apabila ada pertanyaan dan feel free buat share artikel ini ke temen-temen lo yang lagi ngerencanain pergi backpacking ke Eropa.

See you in the next post.

One thought

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s