Mengejar Aurora: Kapan dan Kemana Lo Harus Pergi?

Coba bayangin: Malam itu, lo sedang berdiri di tengah lembah bersalju, gelap, lembab, dan jauh dari kota di mana lo menginap. Lo menggigil berjamaah, bersama beberapa turis dari beberapa negara berbeda. Langit tidak berawan pada malam itu, dan bintang-bintang yang terpampang terang membuat lo tersadar, “Langit malam ternyata bisa secantik ini juga.”

Tapi lalu dingin semakin menjalar: kaki, tangan, kuping dan muka lo terasa beku. Setiap kali lo menghembuskan nafas, udara yang keluar langsung menjadi kabut dingin. Lo was-was, nggak tahu sampai kapan lo bisa bertahan, dan berharap cemas agar Aurora malam itu cepat muncul.

Guide yang lo sewa terus-menerus bilang, “It’s gonna be here in a minute. I’m sure of it.” Tapi Auroranya belum terlihat juga di langit.

Lo berharap bisa ngeliat ini secepatnya, tapi kok lama… – Nicolas J Leclercq

Menit demi menit berlalu, lo mulai lelah menunggu. Dan ketika lo mulai pasrah, lo akhirnya melihat sayup cahaya kehijauan di kaki langit. Mata lo terbelalak. Aurora memulai pertunjukannya — tipis, pelan, tapi semakin lama semakin membahana.

Ketika itu terjadi, lo cuma bisa terbelalak dan tersenyum kagum: “Ah, gila, cantik banget!” — Persis kaya pertama kali gue ngeliat Chelsea Islan.

Paragraf di atas ditulis biar gue punya alasan buat memajang foto Chelsea.

Semua yang gue tulis di atas itu bisa lo wujudkan menjadi nyata, dan artikel ini bakal ngebantu lo mewujudkannya.

Mari kita flashback dulu — Kalau lo udah baca artikel gue sebelumnya, mestinya lo udah tahu bagaimana Aurora bisa terjadi. Tapi, kalau lo nggak terlalu inget apa yang gue tulis di situ, berikut poin-poin pentingnya:

  • Aurora terjadi ketika ada aktivitas magnetik di matahari, dan kekuatan aktivitas magnetik tersebut ngaruh banget sama penampakannya
  • Aurora Borealis terjadi di sekitar bagian terluar Arctic Circle, membentuk Aurora Oval
  • Aurora terjadi puluhan kilometer di atas permukaan laut
  • Cahaya Aurora kalah terang sama cahaya matahari (bahkan sama cahaya lampu kota)
Aurora Borealis yang masih samar dan redup di atas Tromso.

Mungkin lo sekarang bertanya-tanya, “Okay. Terus, hubungan 4 poin itu sama ngerencanain liburan buat melihat Aurora Borealis apa, Yan?”

Santai, Ferguso. Santai.

Empat pengetahuan di atas sangat vital buat merencanakan liburan lo ke sana. Berbekal 4 poin di atas, ada beberapa hal yang akan gue bahas di artikel ini:

  • Kapan sebaiknya lo berangkat?
  • Ke mana lo harus pergi?
  • Aktivitas apa saja yang bisa dilakukan? Apakah perlu memesan tur?

Kapan Lo Harus Berangkat?

Seperti yang gue tulis di artikel gue sebelumnya, Aurora ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas magnetik matahari. Aktivitas itu disebut Solar Flare.

Solar Flare ini tidak terjadi terus-terusan, tetapi mengikuti siklus yang namanya Solar Cycle, atau siklus matahari. “Siklus” berarti aktivitas ini ada naik turunnya. Berdasarkan wikipedia, Solar Cycle 24 — yang berlangsung pada saat artikel ini ditulis — akan berakhir di akhir 2020.

Setelah 2020, akan naik lagi.

Lalu, apa implikasinya? Di akhir siklus, aktivitas magnetik matahari yang kuat akan berkurang drastis, dan itu berarti elektron yang terbang dari matahari ke kutub utara akan semakin sedikit. Ketika elektronnya semakin sedikit, kemungkinan Aurora Borealis akan terlihat akan semakin rendah.

Tetapi ini bukan berarti lo nggak bisa melihat Aurora di tahun 2020. Nyatanya, 2 teman gue yang pergi ke Iceland dan Sweden berhasil melihat Aurora.

Musim juga berpengaruh. Di negara 4 musim, setiap musim panas matahari bersinar 12 jam lebih. Contohnya: di Denmark, tempat gue tinggal sekarang, ketika musim panas matahari tenggelam jam 9-10 malam dan terbit jam 3-4 pagi!

Inilah kenapa lo lebih baik pergi ketika musim dingin, sekitar bulan Oktober-Februari. Di bulan-bulan tersebut, biasanya pada jam 3-4 sore matahari mulai berada di ujung horison, dan menghilang sampai jam 7-8 pagi keesokan harinya.

Karena malam-malam di musim dingin itu lebih panjang dan gelap, Aurora-nya akan terlihat lebih menyala.

Ke Mana Lo Harus Pergi?

Okay. Sekarang kita bahas topik kedua: Ke mana lo mesti pergi?

Seperti yang kita tahu, Aurora Borealis terjadi di sekitar Arctic Circle, lebih tepatnya di jalur yang sering dilalui Aurora: Aurora Oval. Let’s refresh your memory about Aurora Oval using the picture below.

Seperti yang lo bisa lihat di bagian kanan atas dari gambar di atas, Aurora Oval menyisir bagian utara Eropa. Banyak kota dan desa yang berdiri di area yang dilalui Aurora Oval itu. Sayangnya, nggak semua punya infrastruktur turisme yang memadai.

Gue sangat menyarankan lo pergi ke kota-kota yang infrastrukturnya bagus, karena lo bisa mudah menemukan tour operator di sana. Beberapa kota yang mempunyai infrastruktur turisme yang memadai, dan biasanya dikunjungi turis, yang gue tahu, adalah:

  • Tromsø, Norwegia
  • Alta, Norwegia
  • Reykjavik, Islandia
  • Abisko (Lapland), Swedia

Dari kota-kota tersebut, yang mana yang paling oke untuk dikunjungi? Menurut gue semuanya oke, dan tergantung budget dan tujuan lo. Gue akan mulai dengan ngebahas Reykjavik, Tromsø, dan Alta, karena gue pernah ke 3 kota tersebut.

Reykjavik

Kota pertama yang gue kunjungi untuk melihat Aurora adalah Reykjavik, Islandia. Gue pergi ke sana di satu akhir minggu tahun 2018. Dari ketiga kota tersebut, Reykjavik-lah yang biaya tiket, akomodasi, dan makanannya paling murah — walau tetep mahal bangpet untuk standar Indonesia.

Kecuali lo tajir melintir kaya Reino Barack.

Reino Barack dan Syahrini. Penting banget ya majang foto mereka. Tribun News.

Yang bikin Reykjavik sangat menarik adalah banyaknya aktivitas lainnya di Islandia. Apalagi karena negaranya relatif kecil, lo bisa keliling mengunjungi atraksi-atraksi tersebut dalam waktu relatif singkat. Kalau tujuan lo nggak sekadar melihat Aurora Borealis, dan lo berencana untuk berlibur 8-10 hari atau lebih, Islandia bisa jadi tujuan yang cocok.

Dari bandara ke Reykjavik, lo bisa beli tiket bus in advance Sewaktu di Reykjavik, gue ikutan tur Aurora dengan jumlah group yang kecil (< 18 orang). Sebenernya ada opsi group besar, kira-kira 1 bus, tapi gue nggak mau yang terlalu ramai. Nggak suka aja. Lagipula biasanya makin besar groupnya, makin susah diatur orang-orangnya.

Tournya pake minivan kecil kaya gini.

Tur yang gue ikuti ini ternyata lumayan pelayanannya. Mulai dari mobil van, kopi, coklat, dan snack disediakan. Gue tinggal duduk manis. Di tour ini, guide-nya juga seru banget ngejelasin soal Aurora. Mereka bahkan ngebahas juga fakta-fakta unik Islandia.

Dari tour itu, gue jadi tahu bahwa orang Islandia kadang, tanpa sengaja, pacaran dan menikah dengan anggota keluarganya sendiri.

“Kok, bisa?” Karena populasi Islandia sangat kecil, cewek cantik di kota tetangga bisa jadi sepupu sendiri. Untuk memastikan bahwa cewek yang lo suka itu masih sepupu atau bukan, Islandia menyediakan website untuk itu.

Pacaran di Islandia be like, “Sayang… sebenernya kita itu masih sepupu-an.”

Okay, kembali ke Aurora.

Selain melihat Aurora di sana, lo juga bisa mengunjungi Blue Lagoon buat berendam-berendam lucu. Lalu ada juga gletser dan air terjun yang pemandangannya out of this world banget! Di Islandia, lo juga bisa mendaki gunung, melewati lembah, melihat sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman bertualang. Lalu lo juga bisa bercengkrama dengan kuda Islandia yang friendly banget, melihat puffin, laut, dan lainnya.

Kalau lo ingin keliling Islandia, dan pede dengan skill menyetir mobil di jalanan bersalju dan memiliki SIM internasional, silakan sewa mobil. Kalau nggak, silakan coba ikut tur 3 hari keliling Islandia.

Air terjun di Iceland itu indah banget – Robert Lukeman

Sayangnya, Reykjavik itu adalah, (1), kota yang paling selatan dari keempat kota di atas, (2), Reykjavik merupakan kota pelabuhan. Kota pelabuhan umumnya cenderung lebih berawan dibandingkan kota-kota di tengah gunung. The bad news is, Aurora terjadi di atas awan — kalau langit berawan penuh, lo nggak bakal bisa melihat apa-apa.

Berawannya sebegimana? Di musim dingin, atau bulan November – Februari, Reykjavik memiliki 9% kemungkinan langit tanpa awan. Berarti, kalau lo menginap 10 hari di sana, lo memiliki kemungkinan untuk mengalami hanya sekitar 1 hari tanpa awan sama sekali!

Meskipun begitu, banyak orang yang cukup beruntung bisa melihat Aurora di Islandia. Hanya saja, gue bukan salah satunya. 😦

Tromsø

Tromso’s Reindeers

Tromsø adalah kota kedua yang gue kunjungi untuk melihat Aurora Borealis. Di kota ini lah pertama kalinya gue melihat Aurora Borealis yang sejelas-jelasnya, yang gue ceritain di artikel sebelumnya.

Sebagai kota terbesar di utara Norwegia, Tromsø adalah salah satu lokasi yang paling populer untuk melihat Aurora Borealis di Norway. Kota ini terletak di Arctic Circle, memiliki fasilitas yang sangat memadai, dan dihiasi aktivitas musim dingin yang cukup unik.

Aktivitas musim dinginnya termasuk: Ski, cross-country ski, snowboard, naik mobil salju, main sledotan (SLEDOTAN ITU APAAN SIH??) sama Husky, atau bercengkrama sama rusa kutub.

Mahluk yang ini lucu ya. Yang satu lagi rusa kutub.

Selain bercengkrama sama rusa kutub, gue nyoba makan daging rusa kutub di kota ini. Rasa dagingnya itu mirip daging sapi; manis dan umami, tapi lebih alot di mulut. Gue mesti ngunyah lebih lama kalau makan daging Reindeer.

Harganya? 400 ribu seporsi. :’)

Yang gue suka dari pengalaman gue di sini adalah Aurora Borealis / Northern Lights tournya. Dibandingkan dengan Aurora tour di Reykjavik di mana gue cuma dapet 1 guide, gue dapet 2 orang guide. 1 orang jadi supir, dan 1 lainnya menjadi navigator untuk mencari tempat yang: (1) nggak terlalu ramai, (2) langitnya nggak ketutup awan, (3) belum dilewati Aurora Borealis.

Yang lebih kerennya lagi, ketika kami berhenti di suatu tempat untuk melihat Aurora Borealis, kedua guide ini dengan sigap mempersiapkan api unggun, beserta makanan untuk dipanggang di atasnya. Ketika daging, roti, dan marshmallownya sedang dipanggang, Aurora-nya lewat lagi.

Kira-kira kaya gini begini lah.

Sedap banget pengalaman dan pemandangannya. Kaya di luar negeri.

Alta

Alta adalah kota terutara di Norwegia yang memiliki observatory. Dalam sejarah riset sains Aurora, Alta memiliki posisi penting. Sejak puluhan tahun yang lalu, banyak riset yang dilakukan para peneliti di Alta. Bahkan, di kota ini gerejanya adalah gereja Aurora!

Waktu di Alta, gue sama temen-temen sempet mendaki gunung melewati lembah. Terus makan siang di hutan.

Di bawah gereja itu, ada museum kecil yang bisa lo kunjungi. Di museum ini lo bisa belajar sejarah riset Aurora, juga mitos-mitos seputar Aurora.

Misalnya, orang-orang Sami di utara Norway, Sweden, dan Finland percaya bahwa Aurora itu disebabkan rubah api yang berlari saking cepatnya di langit. Orang-orang Tiongkok jaman dulu percaya bahwa Aurora disebabkan oleh naga baik dan jahat yang bertarung di langit.

Mike lagi foto landscape, di atas bukit dekat penginapan.

Yang gue suka di museum ini terutama adalah: Ada mesin karaoke Joik. Joik itu adalah seni nyanyian orang Sami, dan biasanya dinyanyikan bersahut-sahutan. Dengan mesin karaoke itu, lo akan ditantang menyanyikan sebuah Joik, dan lo bisa PVP sama temen lo.

Gue menjawab tantangan itu. Berbekal 10 tahun pengalaman menyanyi di Inul Vista, Diva, dan Masterpiece, dan berbagai angkutan umum, gue mengajak teman gue, Natalia, menyanyi. Setelah pertarungan pitch control yang sangat sengit, akhirnya gue harus mengaku takluk melawan wanita ini. 😥

Natalia di atas bukit dekat penginapan. Bahagia setelah menang Joik.

Waktu di sana, gue dan temen-temen tinggal di penginapan yang namanya Bjornfell Mountain Lodge. Penginapan ini jauh dari kota Alta, dan terletak di kaki bukit yang disulap jadi ski resort.

“Kok kedengerannya jelek, Iyan?”

Tunggu dulu, Kamila. Lo harus mengerti betapa indahnya pemandangan di atas bukit itu. Coba lihat foto Natalia di atas — bagus kan? Terus, interior kabinnya juga indah banget! Ada api unggun. Ada ruang makan kecil. Ada dapur/ Ada jendela besar yang bisa kita hinggapi sambil membaca buku, atau scroll Instagram feed. Kabinnya muat untuk 4 orang.

Happy Birthday, me. Thank you, friends.

Di kota Alta, lo bisa menemukan hanya beberapa restoran saja. Dan harganya pun semahal makanan di restoran Tromsø. Lo harus merogoh kocek 300-400 ribu sekali makan.

Abisko

Bagaimana dengan Abisko? Gue masukin Abisko ke situ, karena beberapa temen gue bilang kalau Abisko itu paling oke kalau buat ngeliat Northern Lights. Banyak artikel online yang mengatakan hal yang sama.

Kok begitu? Well, Abisko adalah kota paling tidak berawan di list ini. Kota ini terletak jauh dari pantai, dan berada di balik pegunungan. Selain itu, kota ini juga berada di Arctic Circle.

Gue punya satu temen yang pernah ke Abisko di tahun 2020, dan dia ngeliat Northern Lights di sana. Katanya sih, biaya tournya 11-12 sama kaya di Iceland atau Norway.

Sayangnya, gue belom pernah ke sana. Jadi nggak bisa cerita banyak.

Aurora di Abisko (by David Becker on Unsplash)

Kalau lo pernah melihat Northern Lights di kota-kota lain di Eropa, tinggalin pengalaman lo di bagian komentar, oke?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s